Masih bisa sms, kok!


Weekend kemaren, HP GSM-ku –yang pake kartu Mentari bawaan dari tanah air- berbunyi di saat jam sudah menunjukkan pukul 11.30pm.

Duh, padahal kala itu aku udah hampir terlelap saking ngantuk dan capeknya setelah sesiang jalan-jalan ama suamiku plus Kayla sambil belanja kebutuhan mingguan.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan panggilan tersebut.
Karena:

  1. Kalau diangkat, aku bakal kena biaya roaming international, yang artinya akan menghabiskan seluruh pulsaku yang saat itu tinggal tersisa 67.000 perak.
  2. Di layar nggak tertera identitas si penelpon kecuali sederetan angka +000062, yang mana lazim terjadi karena itu adalah panggilan international.
  3. Aku berkesimpulan bahwa si penelpon –udah pasti- bukan berasal dari trah keluargaku karena nggak bisa mikir bahwa saat itu di Seoul udah hampir midnight. Mungkin dia nggak sadar bahwa perbedaan waktu antara Korea dan Indonesia adalah +2jam.
  4. Selama ini keluargaku selalu berkomunikasi via sms –ke nomer Mentari lamaku- dan jarang nelpon langsung dari Indonesia. Biasanya aku yang akan balik nelpon mereka dari sini setelah dipancing via sms.
  5. Kalau memang itu adalah panggilan yang maha penting, pasti si penelpon akan mencoba untuk menghubungiku di nomer HP Korea-ku dan bukannya insist ng-miss called sampe tujuh kali (!) di nomer Mentari.

Dan begitulah.
Selama kurang lebih dua puluh menit –dengan jeda beberapa menit tiap miss called-, si HP kekeuh berdering. Dan aku kekeuh untuk selonjoran di tempat tidur dan memilih untuk nggak ngambil HP tersebut dari atas lemari buku.

Hmm, kira-kira siapa yang malam itu dodol banget nelponin gue, ya?

No comments: