Showing posts with label randomsnippets. Show all posts
Showing posts with label randomsnippets. Show all posts

Es Krim Coklat

Terkadang memang ada gunanya pelafalan yang sok Inggris. Terutama ketika kita akan memesan es krim di sebuah kedai kopi yang mbak-mbaknya sehari-hari berbahasa Korea.

Ini terjadi
di Cafe Pascucci (COEX), sekitar seminggu yang lalu. Tepatnya ketika saya sedang menunggu Bang Kipli* dari Incheon  (habis dinas ke Indonesia selama 4 hari) untuk diajak pulang ke rumah sama-sama. *Selama tiga kali Lebaran Bang Kipli memang sibuk hang-out sama Bang Thoyib.
***

Seperti biasa, saya langsung menuju counter untuk memesan es krim pesanan Kayla-Keiva, anak-anak saya (yah, barangkali ada yang belom ngeh kalo saya udah punya anak). *halah*

"Yes?!", kata si mbak cantik penunggu counter kepada saya.
"Chocolate ice cream, please!" jawab saya ringan. "One small cup."
"Three thousand Won," si mbak menjawab singkat sambil tangannya sibuk mencet-mencet layar mesin kasir.

Selang beberapa menit kemudian, (semacam) pager yang dikasih oleh si mbak sebagai tanda tunggu pesanan -nyebutnya apa, siy? pad order sign? waiting sign? or what?- di tangan saya bergetar, menunjukkan bahwa es krim siap diambil.

Namun setelah sampai di depan counter, saya cuma bisa bengong melihat mangkok es krim pesanan saya ternyata penuh dengan gundukan berwarna putih. Iya, PUTIH. Seputih kapas.

Maka dengan ragu-ragu saya nanya ke si mbak, "Er, is this really my ice cream?"
"Yes. It's yours. Coconut, right?!", jawab si mbak dengan pede level sejuta.

Tertegun sejenak dan saya pun tersadar.
Oalaah, mbaaa ...
Tadi itu saya pesen es krim chocolate. Bukan coconut.
Dan sumpe, saya menyebutnya ca-klet. Bukan co-ko-lat.
Jadi kenapa bisa mencrang jadi coconut begini, yak?!

Maka saya pun menyorongkan kembali coconut ice cream itu ke si mbak sambil tersenyum simpul. "Sorry, cho--co--late. Not coconut", kata saya berusaha melafalkan chocolate secara pelan dan hati-hati. "Change, please?", rayu saya kemudian.

Nah, disinilah tampak betapa pentingnya bakat improvisasi seseorang dalam bekerja (terutama bisnis jasa) sehingga customer bisa tetap dijaga kebahagiaannya. Karena yang muncul dihadapan saya kemudian sebagai pengganti es krim kelapa itu tadi adalah one big cup chocolate ice cream (dengan isi 4 doloop scoop) instead of small cup sesuai pesanan saya.

Dan kali ini saya memilih nggak protes dengan begini misalnya, "Mbak, tadi saya pesen yang small, looooh ..."

Pelanggan senang, si mbak pun riang (karena batal dipecat) ...

Salam,


ps. Serpihan ini ditulis pada bulan Nopember 2011  ketika saya masih tinggal di Seoul, Korea (sekarang sudah pindah ke Melbourne, Australia) dan di-publish pertama kali di blog Multiply (http://revinaoctavianitadr.multiply.com). Tapi link barusan (yang multiply.com) nggak usah di-klik, ya. Karena Multiply udah enggak ada. Ditutup oleh pemilik Multiply sejak tahun 2010. Entah kenapa. *curcol mantan MPers yang masih aja merana kalo inget semua tulisan di MP selama hampir 7 tahun (sejak 2003) musnah tak berbekas*

Transformasi sepanjang masa

Jadi ya, ketika kecil itu badan saya sangat cungkring. Very very skinny. Ditambah kulit yang hitam dan sakit-sakitan, maka lengkap sudah penderitaan saya sebagai the ugly duckling dalam keluarga. Dan ternyata kecungkringan itu berlangsung sampai saya dewasa. Dalam artian seberapapun banyaknya kalori yang masuk ke tubuh saya, tapi badan saya nggak akan (pernah) bisa menggendut. Bahkan perut pun susah buncitnya. 

Sebagai contoh: jaman kuliah saya sanggup menghabiskan sepuluh sampai dua belas bungkus nasi kucing dalam satu kali duduk. Tapi ya gitu, blas nggak gendut. Entahlah kemana itu larinya si nasi kucing. Kalau temen saya bilang,"Larinya ke hidung elu, Vin!" Bagi yang belum tahu: hidung saya memang besar. Selain jempol kaki dan tangan.

Lalu senang kah saya dengan fenomena nggak bisa gendut itu?
Terus terang enggak.

Karena pada masa-masa itu saya kepengeeeeeen banget (minimal) pipi saya keliatan cempluk dan badan saya lebih berisi. Ketika saya curhat ke beberapa teman, sebagian dari mereka menasihati,"Makan sedikit-sedikit, tapi sering. Ntar kan cepet gemuk." Saya nurut. Tapi ternyata teori tersebut nggak cocok buat saya. Karena pipi saya tetap cekung. Badan pun masih selidi aja.

Maka setelah mencoba berbagai cara untuk gemuk tapi jarang sukses, akhirnya saya pasrah. 'Ya udahlah kalo memang nggak bisa gendut, yang penting sehat', pikir saya waktu itu.  Karena semakin beranjak dewasa ternyata saya memang jadi nggak sakit-sakitan lagi. Udah jarang mengi (sesak napas karena asthma, in case ada yang nggak mengenal istilah Jawa tersebut), tubuh semakin fit dan entah gimana kulit saya makin cerah. Ehk. Soal kulit ini penting untuk di-mention karena saya sendiri nggak menyangka bahwa warna kulit ternyata bisa berubah yang akhirnya memang mampu meningkatkan level pede saya. Biar aja cungkring, yang penting putih. Begitu mungkin yang ada di pikiran saya waktu itu. Halagh.

Dan soal asthma yang berangsur membaik, hal tersebut nggak lepas dari peran Mama yang menyuruh saya les berenang. Itu terjadi ketika saya masih di SD (sekitar umur 7 tahun). Saya les renang sama (alm) Oom Kwee Chuan, seorang pelatih yang (sebenernya) hatinya sangat baik tapi sumpeeee gualaknya luar biasa kalau pas session di kolam. Tapi herannya, kami -ratusan murid-murid renangnya- nurut dan sayang sama beliau. Bukan karena takut tapi lebih ke merasa segan.

Sependek yang saya tahu, di kota sekecil Purwokerto saat itu (tahun 80-an) beliau adalah satu-satunya pelatih renang yang cukup handal dan terpercaya. Jadi meskipun galak tapi tetep aja muridnya bejibun. Anyway, dalam seminggu saya les renang tiga kali. Dan setiap les, kami (saya dan teman-teman les yang lain plus oom Kwee Chuan, tentunya) harus bermobil ke Purbalingga (sekitar 1 jam dari Purwokerto) untuk menuju Bojongsari, kolam renang yang dipakai sebagai tempat les. 

Tiga fakta yang perlu diketahui soal les renang bersama oom Kwee Chuan: 
1Bojongsari sekarang sudah berubah menjadi Owabong, water park yang cukup besar dengan fasilitas lumayan komplit. Terus terang, menurut saya itu sebuah prestasi yang luar biasa bagi pemerintah Purbalingga, loh. Yang jelas, layak untuk dikunjungi. *sayangnya website Owabong kurang representatif*
Mobil yang kami pakai adalah mobil pribadi Oom Kwee Chuan, semacam pick up yang bagian belakangnya sudah dimodifikasi oleh si Oom dengan diberi semacam terpal --kayak yang biasa dipakai di truk-truk tentara itu-- dan ditambah bangku panjang yang dipasang mengelilingi tiga sisi bak (bayangin suasana di angkot gitu, deh). Ou, tapi please jangan nanya soal seat belt dan segala derivasinya, ya. Karena memang nggak ada. Lagian itu tahun 80-an, pan. Di Purwokerto, pulak.

Apa itu seat belt?
Apa itu duduk manis di dalam mobil?
Meneketehe.

Karena yang ada di pikiran kami --yang notabene saat itu masih sangat kanak-kanak saat (variasi umur murid oom Kwee Chuan: 7-15thn)-- hanyalah bahwa kita akan main air dan bersenang-senang. Despite of the facts bahwa nantinya saat di kolam kami bakal dibentak-bentak dan digenjleng habis-habisan soal teknik renang oleh si Oom. 
Sering kali sehabis berenang saya langsung meriang. Yang batuk lah. Yang panas lah. Dan segala derivasinya. Tentu saja sebagai ibu, Mama saya kalang kabut. "Ooooooom, iki piyeeee??? Anakku batuk lagiiiii. Semalem anget. Tadi pagi muntah-muntah. Besok prei dulu ya lesnya," telpon Mama ke Oom Kwee Chuan setiap kali saya meriang.

Tapi jawaban si Oom pun selalu konsisten,"Nggak pa pa, Bu! Besok Vina tetep direnangin lagi aja kayak biasa. Nanti lama-lama dia semakin tahan." Dan ternyata bener, dooong! Setelah setahunan saya les renang, saya jadi nggak engkrik-engkriken lagi. Sesak napas ketika malam semakin berkurang, meriang dan batuk-batuk pun jarang. Fit banget deh, pokoknya. Maka, big thanks untuk segala ilmu, kedisplinan, bentakan-bentakan sekaligus perhatiannya ya, Oom. Karena bagi saya pribadi, menjadi murid les renang oom Kwee Chuan adalah titik balik dalam hidup saya ketika akhirnya saya tidak lagi menjadi seorang anak yang ringkih.

*kabar terakhir yang saya dengar: beliau meninggal karena kecelakaan motor di daerah Sokaraja pada tahun 90an*

Ah, may God bless his soul. Amen.

Er, btw sampai dimana kita tadi? Ah, sampai soal saya susah gemuk meskipun sudah makan nasi kucing dengan porsi untuk satu RW, ya. Jadi intinya: saya itu makannya banyak (pake banget), tapi susah gendut.

Tapi kemudian ada satu episode dalam kehidupan masa remaja saya dimana tiba-tiba badan saya melar nggak karuan. Entah karena faktor hormon atau simply metabolisme saya yang mulai berubah, tanpa disadari saya pun menggendut. Kalau nggak salah, bobot saya mencapai 59 kg (dari yang semula 46 kg). Itu terjadi jaman saya masih kuliah tingkat tiga deh, kayaknya.

Lalu kemudian segalanya berubah total setelah saya menikah. Iya, bener banget. Problem utama mereka yang sudah menikah adalah badan menggelembung, perut membuncit (baik laki maupun perempuan) dan segala derivasinya. Saya yang notabene susah menggendut pun ternyata mengalaminya. Meskipun ini tidak lepas dari faktor bahwa setelah menikah saya tinggal di Amerika dimana society-nya memang rata-rata mengalami obesitas, ya. Jadi perlahan tapi pasti berat badan saya merambat naik. Tanpa saya sadari. Ironis, memang. Ketika jaman kecil saya berusaha mati-matian menggemukan diri tapi gagal terus, eh giliran disuruh pindah ke Boston tiba-tiba aja langsung menggelembung mirip balon. 

Lantas, senang kah?
Er, antara ya dan tidak.

Di satu sisi saya girang karena akhirnya saya bisa gendut. Tapi di sisi lain saya juga nggak terlalu bahagia ketika melihat penampakan saya di cermin. Karena gendutnya bukan yang bohay gitu melainkan lebih menyerupai karung beras. Nggak ada curve-nya. Nggak ada sexynya sama sekali. Bener-bener bles gendut aja gitu.

sigh ...

-bersambung-

Memang sama-sama "cover"nya, siy


Pagi tadi, di depan loket visa sebuah embassy.

"Please, take off the cover,"kata si mbak penjaga loket dengan nada lempeng sambil terus sibuk memeriksa dokumen yang barusan aku sodorkan. 

Terperanjat kaget, aku pun speechless. Tapi aku berusaha nurut aja karena pasfoto yang aku sertakan di dokumen memang yang belum pake hijab. Jadi meskipun masih ragu-ragu, aku pun melepas kerudungku pelan-pelan. Kebetulan hari ini aku pake ciput, trus pashmina-nya aku lilit di kepala dan leher. 

Nah, yang aku lepas duluan itu pashmina-nya sementara ciputnya masih aku sisain. Karena aku memang sedang berusaha mengulur-ulur waktu.

Sepuluh puluh detik berlalu ...
Dan si mbak masih sibuk menunduk memeriksa berkasku. Sementara aku deg-degan setengah mati tapi enggak bisa (atau tepatnya enggak berani) marah. Lha kalo visaku ditolak gara-gara aku nyolot ke petugas loket kan enggak lucu banget.

Tapi syukurlah karena dua detik kemudian si mbak loket mengangkat kepalanya dari dokumen. Lalu dia ngeliat penampakanku yang hanya berciput. Dan kali ini kayaknya gantian dia yang terperanjat.

"Er, I mean your passport cover, Miss ...", jelasnya kemudian dengan sangat hati-hati dan sopan.

Whuaaa.
Ulekan. Mana ulekan.

Keterangan foto.
Passport ber"cover" milikku (dan Kayla Keiva, anak-anakku) yang aku sodorkan ke si mbak penjaga loket kedutaan,

Karena sebuah video tutorial

Ketika browsing internet dalam rangka mencari inspirasi dan ide untuk aktivitas craft, biasanya saya akan membaca comment-comment yang sudah masuk sebelumnya di dalam postingan tersebut. Bukan karena kurang kerjaan tapi lebih karena dari sana banyak ilmu yang juga bisa saya serap. 

Tapi sayangnya tidak semua comment bernada positive dan bahkan cenderung sangat kasar serta merendahkan. Ini saya kasih satu contoh kasus. Jadi ada seseorang (keturunan Jepang) dengan ID creative hobbies yang mengunggah 'video tutorial' di Youtube tentang bagaimana cara membuat Paper Rose dari koran bekas. Menurut saya video yang dibuatnya oke-oke aja. Langkah-langkahnya cukup jelas. Meskipun agak bertele-tele di awal dan kualitas videonya nggak terlalu bagus (sangat amatir). 

Tapi sekali lagi, pada umumnya video yang diunggahnya itu cukup oke untuk sebuah project gratisan dimana dia rela meluangkan sebagian waktunya untuk merekam proses pengerjaan si Paper Rose tersebut. Apalagi yang saya amati dia bukan tipe 'youtuber' yang sok ngetop dan berlagak artis begitu (eh, banyak loooh yang sok ngartis di Youtube dimana mereka lebih ke banyak ngomong ---kurang to the point--- dan sering ng-zoom wajah, dandanan dan sebangsanya ketimbang fokus ke step by stepnya. Makanya ada istilah 'Artis Youtube' untuk menyebut mereka yang demikian). Sementara itu video milik creative hobbies ini sebagian besar jarang menunjukkan wajahnya dan justru lebih fokus ke tutorialnya. 

Maka memang agak mengejutkan ketika pada bagian comment saya menemukan seseorang dengan ID mini tanmayi menulis begini untuknya:


This video is a waste video!!!! I can make much better rose than your stupid rose

And I was like,"Really?? Are you for real, mini tanmayi?"
Karena saya nggak bisa ngebayangin saya sendiri, misalnya, akan setega itu memberikan comment yang sangat negative terhadap sebuah postingan seberapapun tidak sukanya saya terhadap isi postingan tersebut. Prinsip saya: If i don't like it, i just skip it. Tanpa perlu saya harus repot-repot bertingkah kekanak-kanakan dan kemudian merendahkan lawanbicara saya dengan cara meremehkan hasil pekerjaannya.

Sehingga yang kemudian patut saya acungi jempol adalah respon dari pemilik video tersebut. 


I'm not here to compete people, honey ... if you hate my work then do something better than mine ... thanks for your time anyway ...
Wow! Good attitude, batin saya takjub.
Sebuah kesadaran bahwa kita tidak akan mampu menyenangkan semua orang itu sudah satu level. Sementara kesadaran lain untuk tetap bersikap baik dan sopan terhadap siapapun yang tidak senang terhadap kita itu berada pada level yang lebih tinggi, menurut saya.

So again, what a fab attitude there, Creative Hobbies!
----------------

Kemudian dari jawaban si Creative Hobbies diatas membuat saya berpikir.
Terutama pada bagian: 'I'm not here to compete people'.

Bagi yang mungkin sesekali ngamprokkin postingan saya di NewsFeed-nya masing-masing mungkin akan tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini saya lebih banyak upload foto-foto hasil karya ketimbang pamer foto diri, anak-anak dan keluarga, hasil plesir dan atau sebangsanya. Yah, sesekali tetep masih pamer juga, sih. Tapi frekuensinya sudah sangat jauh berkurang ketimbang saat awal-awal dulu ketika saya masih euforia mainan jejaring sosial (jejos). Pun sebisa mungkin semuanya itu berusaha saya bungkus dengan berbagai pesan yang intinya semoga isi postingan tetep ada manfaatnya dan nggak cuma sekadar pamer. *nyengir*

Kembali ke pernyataan Creative Hobbies diatas. Satu frekuensi dengannya, saya pun merasa bahwa selama ini ketika mengupload berbagai hasil karya (di berbagai jejos) sama sekali nggak ada sedikit pun pikiran di benak saya bahwa saya ingin bersaing. Dengan siapapun. Karena saya tahu (dan sangat yakin) bahwa diluar sana ada banyak crafter lain yang jauh lebih jago dan berpengalaman dibanding saya yang notabene masih sangat hijau ini. Jadi buat apa show off kalau memang saya tahu bahwa banyak yang jauh lebih keren dibanding saya? Malu kalee.

Maka apa yang saya kerjakan selama ini adalah memang karena saya suka. Saya senang. Saya bahagia. Bukan karena panas melihat Yu Jumyati atau Mbak Markonah atau Mas Bambang atau Oom Budi posting hasil craft-nya di Facebook-nya masing-masing dan kemudian membuat saya blingsatan untuk kemudian membuktikan,"Hey! I can do something better than your stupid craft!"

Karena lebih baik menumbuhkan semangat,"Oh, saya terinspirasi oleh postingan ini, deh. Kayaknya saya bisa bikin juga, nih. Karena saya tahu gimana tekniknya dan kemungkinan besar hasilnya akan jauh lebih bagus." ketimbang berpikir,"Halagh! Timbang bikin begituan gue juga bisa. Udah sejak TK, malah! Liat aja. Besok gue posting yang lebih keren dibanding dia!!"

Intinya: lakukan segalanya karena memang kamu suka. Dan bukan karena terdorong oleh rasa iri dan dengki. Karena sirik itu korosif. Percayalah.

Have a great day!

Love,
Vina 

Membisniskan hobby

"Berapa harganya?"

Sebuah pertanyaan sederhana.
Tapi sumpe, seringkali aku gelagapan menjawabnya.
Terutama jika itu merujuk kepada hasil kerajinan tanganku (crafts).

Seriously, it's a tough question.

Karena well, ketika ng-craft itu aku sangat menikmatinya. Detik per detik. Sehingga wajar jika terbersit rasa 'bersalah' ketika aku harus pasang harga ketika ada teman yang tertarik membelinya. Karena sekali lagi, well I am having fun making it. Enggak adil rasanya jika kemudian aku membisniskannya. Tapi jika keinget bahwa biaya yang aku habiskan untuk membeli bahan itu juga enggak murah maka tentunya akan sangat menyenangkan jika aku bisa balik modal, pikirku. Cuman ya itu tadi, bingung aja berapa harga yang harus aku bandrol.

Oke, sekarang aku ambil contoh Lunch Bag yang ini.
Berapa harga yang harus aku patok?


Berikut detail perhitungan kasarnya.

Biaya material: $10
Ongkos labor: $8/jam.
Total waktu pengerjaan: 4 jam.
Maka harga Lunch Bag ini $42.

Nah, pertanyaannya sekarang: Apakah reasonable jika aku  ng-charge setinggi itu untuk sebuah Lunch Bag? Jawabannya: entahlah. 


Apalagi dengan fakta bahwa di luar sana banyak yang menjual bag semacam itu dengan harga yang mungkin jauh lebih murah. Ini tanpa mengesampingkan fakta bahwa bisa jadi karena mereka memakai kain/material yang berkualitas lebih rendah, dibuat di pabrik (handmade vs produksi massal itu harus dipertimbangkan dalam pricing) dan atau jahitan yang mungkin seadanya (karena dibuat secara massal itu tadi sehingga quality control kurang terjamin), dan segala derivasinya.



Sehingga jika pengen terkesan lebih rasional, maka aku harus mematok harga berdasarkan biaya materialnya aja. Artinya adalah segala kerja kerasku selama tiga jam dalam membuatnya sama sekali enggak dihitung. Dan itu artinya di jaman serba merdeka ini aku masih melakukan kerja rodi. hihi.



Kesimpulannya, memang rumit ketika harus menghargai sebuah kerajinan tangan. Terlebih jika berhadapan dengan mereka yang memang kurang menghargainya. Tapi percayalah, jika kita sabar maka customer yang tepat pun akan berdatangan dengan sendirinya.

Jadi yuk, mari.
Tetep berkarya tapi juga jangan sampe tekor.
*memangnye klan cendana?*


Entropy, before after

Pada dasarnya saya itu memang suka beres-beres. Jadi ketika entropy naik, saya malah merasa tertantang untuk bisa segera menurunkannya tanpa harus ngedumel ketika mengerjakannya. *meskipun kalo pas PMS ya kadang merepet dikit juga, siy. Ehk*

Dan ini salah satu contoh metamorphosis kondisi kamar yang habis diacak adul anak-anak (baca: ketika mereka minta kruntelan sama emak bapaknye yang belakangan ini frekuensinya makin sering. We don't mind, siy. At all. Cuman ya itu, pas pagi-pagi sama sekali nggak ada yang inget untuk bantuin ngembaliin bantal dan atau kasur. hihi. Dasar bocah!).


Suasana kapal pecah. 

Dan empat puluh menit kemudian ...


TADA!
Jelas aja emaknye gatel pamer dong, ya. Karena habis kerja keras itu memang kudu dipamerin. Eman-eman kalo nggak. Ehk.

Happy Sunday!
Vina Revi

Karena memang masih tampak siang sih, ya

Dua minggu yang lalu, beberapa teman TK Keiva, si bungsu, main ke rumah yang mana (tentu saja) ditemenin ibunya masing-masing. Dan yang saya maksud dengan beberapa itu adalah hampir satu kelas (seriously! Rumah saya jadi mirip PAUD kemaren. Rameeee banget. Tapi saya seneng. Pake banget). 

ps. foto diupload seijiin emaknye masing-masing

Jadi sepulang sekolah (sekitar jam 2), mereka semua langsung berbondong-bondong ke rumah. Nah, lalu acara yang tadinya hanya berupa dolan-dolan biasa aja gitu eh ternyata berubah menjadi potluck party. Karena hampir semua ibu masing-masing bawa bondhotan. 

Ada yang ngoleh-olehin semangka, ada yang beliin tokpoki di JAWS bawah apate, ada yang beli snacks di Kokiri Mart (masih di bawah apate juga), ada yang bawain Sweet Potato Myeongga dari gumaguma (udah pernah cobain? Sumpe, enaaaaaaak!), satu pack Caprisun, satu box Cookies dari Costco, dll. Sementara dari saya sendiri, udah siap satu panci penuh berisi Bakso (request dari dua orang Moms yang bulan sebelumnya sempet main sendirian dan nyicip Bakso ala Vina dan ketagihan. Ehk!) dan dua loyang Kentang Keju (buat para krucils). Intinya: makanan yang tersedia untuk dicemil bersama jadi buanyaaaak.


ps. ketika saya mengambil foto mereka secara diam-diam, salah satu Moms yang memergoki saya sempet komentar,"Ini mau dimasukkin ke blog, ya??" Oh, tentunyaaaa, batin saya sambil nyengir. Buat apalagi, memangnya? 

Trus yang bikin lebih bahagia lagi (dan juga sangat saya hargai) adalah karena hampir semuanya turun tangan ikut membantu menyiapkan segalanya. Mulai dari yang mindah-mindahin segala oleh-oleh ke piring saji, motongin semangka, bukain dus Caprisun, dan seterusnya. Not to mention bahwa sesudahnya mereka masih cancut taliwondo nyuci piring segala, loh. Sumpe! Begini ini seharusnya sebuah pesta, ya. Dari semua untuk semua. Jadi kan Tuan Rumah nggak tepar sendirian. Ehk.

Anyway, setelah kenyang nyicip segala makanan yang tersedia, kami pun beranjak ke playground di bawah apate dan melanjutkan piknik serta ngobrol disana. Sayangnya, team udah nggak komplit karena ada beberapa anak yang harus pulang duluan. Ada les, kata emaknye. Ehk. 


Tanpa kerasa, kita duduk di bawah canopy playground sampe hampir jam 8 malam (karena summer maka siangnya lama) sambil cemal cemil dan haha hihi. Dan akhirnya rombongan pun bubar setelah salah satu ibu berinisiatif mengajak temen-temennya pulang. hihi. Padahal sebenernya yang lainnya masih betah kali, yaaa ...

Ah, tapi yang jelas saya senang. 
Ou, dan btw berbagai bungkus bekas makanan yang dibawa oleh para ibu itu akhirnya saya daur ulang menjadi beberapa item, loh. Mau tau apa aja? Monggo silakeun klik di postingan yang ber-tag: Recycle/Upcycle, ya. Halagh. Ujung-ujungnya dagang aja.

Salam,
Vina Revi

My Weight Loss Diary

Ceritanya sebulan yang lalu itu saya kan berhasil menurunkan berat badan sebanyak 6.2 kg (hanya) dalam waktu satu bulan. Tepatnya 28 hari. Sebagai yang mengalaminya, terus terang saya kaget sendiri karena nggak menyangka bahwa hasilnya akan sedrastis itu. Dan sekali lagi, cuma dalam kurun waktu 28 hari (30 Mei 2014-27 Juni 2014) saja. Not even a month, Sodara! Jadi wajar kalo saya sendiri pun takjub.

BEFORE: May 30. 2014. AFTER: June 27.2014

Dan saking girangnya, saya pun nggak tahan untuk pamer foto Before After'nya di Facebook. Yang mana kemudian menuai banyak pertanyaan dan rasa penasaran teman-teman.

Maka setelah tertunda sekian hari, di tengah segala kerempongan menyelesaikan berbagai project dan juga ngurus si bungsu yang rada meriang karena kecapekan, inilah yang berhasil saya tulis dengan cara menyicilnya sedikit demi sedikit. Semoga bisa menjawab semua pertanyaan yang ada, ya.

Silakeuun ...

Bolu Gulung dengan design unik (Tutorial)


Pengen bikin Bolu Gulung yang kulit luarnya unik? 
Mari sini saya kasih tahu caranya. Saya terinspirasi dari videonya Ochikeron. Lalu dari sana design saya kembangkan sendiri tapi resep tetap merujuk darinya. Yang jelas ini project yang lumayan gampang untuk dieksekusi, kok. Selain tentunya super fun karena bisa memantik kreativitas kita dalam membuat design yang menarik, yes.

Jadi yuk, ah, kita mulai!

Langkah pertama.
Bikin design yang kalian mau diatas kertas (saya pake HVS biasa). Tentunya sesuaikan ukuran kertas dengan lebar loyang yang akan kalian pakai, ya. Kebetulan karena saya memakai loyang ukuran 33x30cm, maka saya memakai HVS ukuran A4. 

Tips: design nggak perlu dibuat penuh satu loyang karena toh sebagian permukaan akan tertutup ketika digulung.

Langkah kedua.
Alasi loyang dengan kertas roti. Tapi, nah ini yang penting, kertas roti dipotong sekitar 8-10 cm lebih lebar daripada pinggiran loyang. Ini akan mempermudah kita ketika akan mengangkat bolu gulung dari loyang ketika masih dalam kondisi panas. 


Langkah ketiga.
Taruh design yang sudah kita buat tadi di BAWAH kertas roti. Posisikan bagian design (yang akan terlihat ketika bolu gulung sudah digulung rapi) mepet ke salah satu sisi loyang. 


Langkah keempat.
Buat adonan untuk mengisi design. Silakeun merujuk pada resep yang di-share Ochiekeron di youtube-nya, ya. Link udah saya kasih di bagian awal postingan ini.


Tips: sebaiknya pewarna ditambahkan sedikit demi sedikit (saya pake tusuk gigi) sampai mencapai warna yang diinginkan.

Langkah kelima.
Isi bagian luar design terlebih dulu (dalam kasus saya: lingkaran berwarna pink), kemudian panggang di oven 170C selama 30 detik. Foto nggak terlampir. Setelah itu, isi bagian dalam design (warna biru).


Teruskan dengan mengisi polka dot di sekelilingnya memakai warna pink dan biru.


Habis itu panggang di dalam oven 170C selama 1.5 menit.

Langkah keenam.
Setelah pattern matang, tuang adonan bolu gulung diatasnya. 


Ratakan adonan sampai menutup seluruh loyang.


Panggang di oven 170C selama 14 menit.

Langkah ketujuh.
Keluarkan adonan dari loyang. Balikkan. Ambil kertas yang berisi design. Tutup bolu gulung dengan kertas roti. Biarkan dingin.


Langkah kedelapan.
Isi bolu gulung dengan isian sesuai selera.
Tips: adonan whipped cream saya kasih warna biru biar lebih catchy aja gitu.


So, that's it. Yes, pretty much it.
Ehk. Saya tahu, memang agak rempong, ya.
Tapi sumpe, sepadan dengan hasilnya yang cantik dan sangat unik.
Cocok buat hantaran ke mama mertua. Atau ketika kita pengen show off ketika ada acara potluck. Karena Bolu Gulung yang kayak begini jarang dijual di toko, pan. 

Jadi, good luck, ya!
Semoga menginspirasi.

Salam,
Vina Revi

ps. Bagi yang butuh resep komplitnya, nanti saya susulkan kalau udah agak longgar, ya. Kebetulan sekarang lagi ada beberapa project yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Tapi yang jelas, di youtube-nya Ochikeron itu udah cukup jelas menerangkan detail step by step serta bahan-bahan yang dibutuhkan, kok. Jadi selebihnya tinggal kreativitas kita aja yang main disini. Gitu, ya. Sekali lagi, good luck!

Saya menyebutnya geje

Foto ini saya bikin sekitar tiga setengah tahun yang lalu. Ketika saya masih aktif ngblog di revinaoctavianitadr.multiply.com (sebelum Multiply bangkrut dan kemudian menutup seluruh aksesnya bagi para blogger yang terdaftar sebagai member disana).

foto. koleksi pribadi vinasnippets. Please, jangan dicolong.

Trus kemaren saya iseng memasangnya sebagai headshot di BBM (saya memang install BBM for iPhone biar lebih gampang berkomunikasi dengan keluarga besar saya di Indonesia yang sebagian besar memakai BB). 

Trus entah gimana, tiba-tiba aja saya kepikiran bahwa di foto geje itu ternyata saya mirip dengan Queen of Hearts, salah satu villain di film Alice in Wonderland. 


Ehk. Paling nggak, monyongnya mirip lah ya ...


Ah, bener-bener postingan yang geje.

Happy geje anyway,
Vina Revi

Namanya juga Co-ass

Foot Note sengaja saya taruh di awal. Supaya background cerita menjadi jelas. Tidak membingungkan. Dengan demikian istilah Foot Note saya tiadakan dan diganti menjadi, er, Note aja gitu kali, ya.

NOTE.
1 Anamnesis adalah sebuah wawancara yang dilakukan oleh tenaga medis (dokter, perawat dan segala derivasinya) untuk mencari informasi yang berkaitan dengan penyakit pasien yang membawanya datang berobat (kira-kira begitu definisinya, berhubung saya tidak menyimpan satupun catatan semasa kuliah).
2 Co-ass (atau Ko-ass) adalah mahasiswa Kedokteran yang telah meraih gelar Sarjana Kedokteran dan sedang menjalankan Kepaniteraan Klinik di rumah sakit untuk meraih gelar Dokter Umum

============================================


Oke. Sekarang masuk ke inti cerita.
Lokasi. Di sebuah Emergency Room, Seoul, Korea

PerihalAnamnesis antara Co-ass (berbahasa Korea dan sedikit Inggris) dan Ibu Pasien (berbahasa Indonesia, Inggris dan sedikit Korea)

Mbak Co-ass: Anaknya dibawa kesini karena apa, Bu?
Ibu Pasien: Muntah ama MENCRET.
Mbak Co-ass: Oh, muntah dan MENCRET, ya ... (sambil tangannya sibuk membolak balik catatan yang berisi daftar pertanyaan -in English- tentang apa-apa yang harus diajukan kepada pasien). 
Ibu Pasien: Iya, muntah dan MENCRET (sambil menunggu dengan sabar apa yang akan ditanyakan selanjutnya oleh Ibu Dokter)
Mbak Co-ass: Er, anak Ibu SUSAH buang air besar tidak?
Ibu Pasien: ?????? (sambil ngbatin: Lu gila kali ya, Ndro??!)

Ini mencret, mbak. Mencret.
Pernah ada gitu mencret yang susah keluarnya?
hihi ...

Moral of the story. Pasien bule yang hanya bisa berbahasa Inggris dan tidak mampu berbicara bahasa setempat secara fluent (kecuali untuk keperluan nawar-nawar barang atau pesen kopi di warung langganan) memang terkadang sangat intimidating sehingga membuat grogi bahkan seorang Co-ass handal level rumah sakit bergengsi di Seoul sekalipun.

Salam,
Vina Revi

Berasa nemu artefak

Diantara berbagai toko yang ada di bawah apartment saya, ada tiga toko yang sering saya kunjungi. Pertama: Kokiri Mart, yang menjual kebutuhan sehari-hari sebangsa sayur mayur, lauk pauk dan barang-barang rumah tangga sederhana lainnya (pembersih lantai, roll tisue, kain pel, dll). Kedua: Ezy Buy, yang menjual roti-roti kesukaan Kayla &Keiva (sebenernya ada Paris Baguette juga, tapi kebetulan anak-anak saya doyan roti isi cream cheese yang justru cuma dijual di Ezy Buy). Ketiga: toko kue kering, seperti yang tampak pada foto di bawah ini.


Yang saya suka dari toko kue kering ini adalah karena citarasa sebagian besar snacks-nya mirip dengan yang banyak dijual di Indonesia. Dan makin kagetlah saya ketika beberapa waktu yang lalu tiba-tiba menemukan kue ini:


Kalau jaman kecil dulu, saya menyebutnya Untir-untir. Dalam bahasa Jawa, untir itu artinya pelintir. Sesuai bentuk si kue yang memang melintir meliuk-liuk gitu. Tapi di Korea, mereka menyebutnya: 와배기.

Anyway, karena penasaran, saya pun membelinya. Eh, ternyata citarasanya mirip kayak Untir-untir yang pernah saya makan jaman kecil dulu, dong! Cenderung lebih enak, malah. Whua! Double surprise. Dan terus terang dengan harga 3000 Won (sekitar Rp 30.000) untuk kemasan 250 gr, sumpe it's worth it. 

Selamat datang, globalisasi!
Karena bayangin aja, untir-untir yang dulu pernah saya makan di Purwokerto (iya, saya menghabiskan masa kecil saya di kota tersebut. Ada yang asli sana juga? hoho. Yuk, mari kita ngobrol lebih lanjut via japri. *halagh*), kenapa tiba-tiba tiga puluh tahun kemudian bisa muncul di hadapan saya, di sebuah toko snack kecil di Seoul, coba?

Seru aja, kan.
Maka sumpe, sekali lagi it's worth it. Sangat sangat worth it.

Sambil ngemil Untir-untir,
Vina Revi

ps. Semua foto dijebret pake HP (penting untuk di-mention)

Mau jalan jigrak juga bisa, kok

Definisi mewah itu sangat personal.

Ada yang menganggap bahwa punya rumah super luas bertingkat tiga komplit dengan kolam renang dan garasi terbangnya: mewah. Bisa jalan-jalan keluar negeri setahun tiga ratus kali (semuanya dibayarin kantor atau hasil malak rekanan): mewah. Ada yang bilang bahwa makan nasi pecel di pinggir jalan sambil ditemenin Lee Min Ho: mewah.

Seperti itulah. Sangat personal.
Bagi saya sendiri, mewah itu nggak rumit.


Salah satunya adalah punya kantor yang jaraknya tidak lebih dari 500m dari rumah. Sehingga setiap hari saya tidak perlu bangun pagi-pagi sekali tapi masih punya banyak waktu untuk mengurus kebutuhan anak-anak dan suami karena bisa berangkat ke kantor (jalan kaki) sekitar lima-tujuh menit sebelum jam masuk kerja. 

Kadang-kadang malah setengah jam sebelumnya saya sempet ng-laundry dulu (biar sepulang kerja tinggal masukkin hasil cucian yang udah bersih ke mesin pengering) atau mengganti sprei (seminggu sekali) atau menata ulang susunan peralatan dapur di dalam lemari atau motong-motong bahan makanan (untuk persiapan dinner) atau melakukan semuanya sekaligus, dan seterusnya, dalam kondisi telah memakai busana kantor. 

Sehingga ketika ada yang bertanya, “Gimana kamu bisa bagi waktu antara mengurus keluarga, rumah dan kantor?”, jawaban saya sederhana, “Cobalah mencari kantor yang untuk ke sana-nya kita bisa ngesot …”

Salam,


  

Agar Tetap Hepi Saat Reuni


Saat ketemu dengan temen lama sebenernya ada dua macam perasaan yang selalu aku rasakan berkecamuk di dalam dada (halah!) bagaikan dua sisi mata uang logam yang berlawanan. Di satu sisi aku girang karena bisa connect lagi dengan mereka tapi di sisi lain juga ada perasaan khawatir karena (yakin) bakal dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang ada hubungannya dengan 'masa lalu'. 

Sebenernya wajar aja ya kalo saat reuni itu orang cenderung untuk bernostalgia. Lah namanya juga reuni, kan? Tapi memang lama kelamaan akan membuat gusar juga saat topik yang diangkat adalah sesuatu yang (kebanyakan) membuat enggak nyaman, meskipun mungkin sebenernya niat awal mereka hanya untuk membuka percakapan atau memancing obrolan.

Padahal yang namanya roda kehidupan itu selalu berjalan (atau berputar?) dan penuh dengan perubahan, yes? Jangankan selama 10 atau 15 tahun, sementara dalam kurun waktu 2 tahun aja mungkin banyak perubahan yang bisa terjadi di dalam kehidupan seseorang. Mulai dari penampilannya (biasanya ini yang paling gampang diidentifikasi) sampai dengan kehidupan sosialnya.

Jadi memang yang namanya teknik ngobrol itu perlu dipelajari.
Supaya kita enggak jadi orang yang menyebalkan dan doyan bikin orang lain merasa gusar dengan ucapan-ucapan yang kita lontarkan selama berinteraksi.

So, pengen tetep hepi saat reuni?
Inilah beberapa tips singkatnya:

1. Mulai percakapan dengan hal-hal yang netral
Misalnya, "Apa kabar, Pak?", instead of, "Halo, Pak! Gimana kabar si Siti, pacarmu dulu itu?" Lah, iya kalo dia jadi kawin ama si Siti. Kalo ternyata dia udah lama putus dari Siti dan justru berjodoh dengan Saidah? Kan suasana jadi enggak enak dengan pertanyaan sok akrab tersebut.

2. Hindari topik tentang masa lalu, terutama yang 'kelam'
Enggak perlu. Ingat, perubahan selalu terjadi bahkan tiap detik. Yang dulunya bandel siapa tahu sekarang justru bermetamorfosis menjadi uztad profesional. Yang dulu lulus S1-nya lama, justru sekarang bergelar PhD dari lulusan universitas bergengsi. Yang dulunya super ndeso dan cenderung bukan kembang sekolah, bisa jadi sekarang mirip mas Manuel Rico (the hottest OBGYN on the planet!).

Intinya: kalau memang kita menyadari bahwa teman kita sekarang ini sudah berubah, ungkapkan pujian kita secara tulus. Tanpa perlu harus membahas masa lalunya. People change. Period.

3. Jangan snob
Oke lah, sekarang kita sukses. Hidup makmur. Punya ini itu. And so on. Sah-sah aja kalo kita merasa puas dengan pencapaian tersebut. Wajar. Tapi kita juga harus sadar bahwa enggak semua orang merasa senang dengan kesuksesan yang  kita raih. Jadi santai aja dalam membawakan diri. Biarkan orang lain menilai sendiri gimana kita menurut ukuran mereka. 

4. Bersikap positif saat ada yang snobbing
Tanggapi dengan rileks kalo ada yang lagi lucu-lucunya pamer. 
Kalo perlu kita bisa membantunya dengan mengungkapkan kekaguman kita terhadap barang-barang/hal-hal yang dia pamerkan. Semakin kita santai, itu artinya rasa percaya diri kita makin tinggi. Jadi enggak perlu panas kalo ada yang lagi sibuk jual diri.

5. Melucu tanpa merendahkan
Saat ng-jokes, jangan tempatkan lawan bicara kita pada posisi yang lebih rendah apalagi menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan. Enggak banged!

6. Jangan sok tau dan sok tua
Kalo ada yang kira-kira agak nyeleneh (menurut ukuran kita), enggak usah repot-repot sok nasihatin mereka. Cukup diliat aja. Kalo kita enggak suka, hindari. Tapi jangan intervensi. Apalagi kalo sampe ngasih wejangan secara terbuka. A big NO NO. Intinya mah jangan jadi orang yang sok tau apalagi sok tua. Karena alih-alih rasa hormat serta terima kasih yang didapat, yang ada justru sikap reseh kita tersebut bakal diomongin di milis-milis selama sejuta tahun ke depan.

Jadi yuk mari kita bernostalgia tanpa harus jadi gila.

Nial Djuliarso (Reminiscence about the past)

It's really been sometime since our last meeting in North East US back in 2002. We were invited by Nial Djuliarso for his gig show in downtown Nashua. So three of us (Kayla, my first, was still a couple of months old) went to his show in a local pub. It was quite an enjoyable evening since we all like to listen to jazz music. Kayla was particularly joyful.


Nial moved to Boston to study music at Berklee. He was accommodated by my hubby who was doing his study at MIT and happened to live in Berklee neighborhood on Hemenway St.

I remember, at one point, my hubby drove me around this apartment area just to show me where he used to live for many years. He told me how Nial is not only talented in music but also tennis. Despite his many years of intensive training, he could not beat Nial only to find out later that Nial actually played in tournaments :). And here we go, in the twist of time, we get reconnected again in some way. To make the story short, please just enjoy it from the clip.

Ohh, that beautiful reminiscence, it makes our heart blooming ...

Stop dreaming, start working!

Ketika aku upload foto hasil masakan K (12 tahun), si sulung, di BBM grup keluarga (ehk, iya. Delapan bulan yang lalu aku memang install BBM for iPhone karena keluarga besarku rata-rata berkomunikasi via BBM dan bukan memakai fitur-fitur chat yang lain sebangsa Kakao Talk, LINE, Viber, dsb), maka para Oom, Tante, Pakde, Bude, Akung, Maci, dll, rata-rata berkomentar sama,"Ikutin Master Chef Junior aja!"

Ehk.
Sumpe, dan aku pun baru ngeh bahwa di Indonesia ternyata udah muncul Master Chef Junior, toh? Karena selama ini aku memang lebih sering liat Master Chef Junior yang versi Australia. Itupun lebih sering nggak sengaja gara-gara anak-anakku yang milih channel. *ya, ya, ya. Aku jarang nonton TV, tapi online mah 24/7 ^^*

Anyway, kembali ke soal Master Chef Junior.
Kalau yang aku amati, belakangan ini dunia kuliner di Indonesia memang sedang bangkit, ya. Dalam artian makin banyak orang yang menunjukkan ketertarikannya terhadap makanan/how to cook. Bandingkan aja dengan kondisi sekitar dua puluh lima tahun lalu dimana chef yang kita kenal di TV paling cuma itu-itu aja. Kalau nggak Tante Sisca Soewitomo ya oom Rudi Choiruddin. Bener nggak?

Bisa jadi sebenarnya banyak chef handal lainnya yang kemampuannya sepadan dengan Tante Sisca atau oom Rudi. Tapi sekali lagi, yang akhirnya ngetop cuma segelintir. Sementara sekarang? Timbang bisa bikin sambel teri aja langsung menyebut dirinya sebagai chef (aku, maksudnya). 

Untunglah seiring berjalannya waktu, akhirnya aku sadar bahwa aku sama sekali nggak pantes disebut chef apalagi mengaku-aku sebagai chef timbang karena sekadar bisa atau hobby masak aja. Menurutku seseorang bisa mendapat gelar chef itu bukan hanya karena dia bisa masak tapi juga karena dia paham seluk beluk makanan yang akan diolahnya (food science itu rumit, loh!) selain juga mampu menciptakan resep-resepnya sendiri (nggak cuma asal copy paste) serta memiliki berbagai keahlian serta menguasai pengetahuan tentang food secara excellent.

Intinya: chef itu beda dengan tukang masak.

Dan terus terang, kalau aku pribadi sih beneran kepengen bisa mendapat gelar Chef. Sekadar info: background pendidikan saya adalah kedokteran. Tapi, mamine, aduh lah sumpe susahnya nyari cooking school dimari yang memakai bahasa Inggris. Sementara kemampuan bahasa Korea-ku masih pas-pasan. *sigh* But, hey. Marilah kita bermimpi (dan kemudian berusaha mewujudkannya) maka semesta akan mendukung, yes?

Salam,
Vina Revi

Keterangan foto.
Fotografer: Kayla A. Budiyono
Apron: Indonesian Food blogger
Lokasi: dapur rumah ^^