Showing posts with label recycle/upcycle. Show all posts
Showing posts with label recycle/upcycle. Show all posts

Begini caranya bikin pouch bag secara gratis (sort of)


Biaya yang saya keluarkan untuk membuat pouch bag ber-ristluiting kayak begini hampir nol. Well, sort of. Karena toh saya masih harus modal beli zipper dan kain. Tapi harga zipper juga cuma 2000 Won (sekitar 30 ribu Rupiah), anyway. Sedangkan untuk kain, ehk, tumpukan perca di sudut ruang craft saya masih menumpuk tinggi. 

Jadi sekali lagi, jika saya ditanya berapa biaya untuk membuat beginian? Jawabannya: almost zero. Dan btw, pouch bag ini akhirnya saya pake untuk mewadahi cookie cutter dan spuit yang awalnya berserakan di laci dapur. Girang aja gitu ketika bisa mengorganize sesuatu dengan biaya minimal, pan. *emak-emak perhitungan*

Happy upcycling!

Upcycling Jeans Bekas

Terus terang sejak bisa menjahit, saya hampir nggak pernah membuang jeans bekas lagi. Karena memang banyak yang bisa dilakukan dengan jeans-jeans tersebut. 

Ini beberapa diantaranya.
Enjoy!

1. Book Wallet


Note. Ini bikinnya bener-bener pake perjuangan. Beberapa kali saya harus membongkar pasang jahitan karena saya memilih nggak pake pattern. Jadi memang trial and error gitu. Tapi buat saya justru disitu asiknya. Karena proses kreatifnya jadi lebih berasa. 

Dibawah ini penampakan bagian dalamnya:

Dompet Caprisun

Jujurly, saya jarang beli Caprisun. Tapi karena di acara potluck party (dadakan) yang lalu ada salah satu teman yang bawain Caprisun, maka jadilah di kotak sampah menggunung tumpukan bekas bungkus Caprisun.

Mau dibuang kok sayang karena jaman kapan dulu saya pernah googling dan menemukan banyak kreasi yang bisa dihasilkan dari bungkus Caprisun. Karena alasan itulah akhirnya semua bungkus Caprisun saya cuci bersih, dikeringkan lalu kemudian saya sulap menjadi ini:


Yup. Itu adalah sebuah dompet. Bukan onde-onde. Dan sebelumnya saya mau bikin pengakuan, sebenernya itu adalah kali kedua saya mencoba ng-craft pake ritsluiting (spelling?). Percobaan yang pertama dulu ehk boleh dibilang gagal dengan sukses. Lalu kemudian saya kapok nyoba-nyoba ngjahit segala sesuatu yang melibatkan ritsluiting. 

Tapi ketika kemaren saya riset untuk mencari ide (dan tutorial, tentunya) tentang apa yang bisa dilakukan dengan bekas bungkus Caprisun, saya jatuh cinta dengan Caprisun Wallet-nya Amy yang ini.

 

Being me, saya pun merasa tertantang. Akhirnya setelah ngulik sekitar dua jam (minus riset), jadilah Dompet Caprisun yang mampu menampung 8 buah kartu, dua kantung koin ber-ritsluiting (yay!) dan space untuk menyelipkan uang kertas.


Sebenernya prosesnya nggak rumit. Cuman mungkin karena saya tergolong newbie, maka jadi agak rempong. Kerempongan pertama: jadi entah gimana, beberapa kali benang di mesin jahit saya terlepas dari jarumnya. Terpaksa deh saya bulak balik ngjahitnya. Resikonya: jadi bolong-bolong. Tapi mengingat ini adalah project recycle (atau upcycle?), menurut saya itu malah bisa sekalian dijadiin aksen, ya. Ehk. Kerempongan kedua: (obvs) pemasangan ritsluiting. Karena saya lagi males riset, jadi aja pake feeling ngerjainnya. Alhasil memang bikin jarum mesin jahit saya patah (dua kali) karena kesandung si ritsluiting. Dan setelah korban dua jarum, baru deh saya nyempetin riset dulu gimana caranya masang ritsluting secara baik dan benar. Ehk.

Tapi above all, menyelesaikan project ini cukup menyenangkan, kok. Apalagi suara Amy sangat soft (bukan yang berapi-api seperti kebanyakan video tutorial yang lain yang terus terang agak annoying) dan juga karena step by stepnya sangat jelas. She did an excellent job!

Ou, satu lagi.
Yang akan saya bagi disini mungkin cara mengeringkan dan membersihkan bungkus Caprisun sebelum dipakai/dijahit, ya. Karena di youtube-nya Amy, dia nggak menyertakan langkah-langkahnya.

Maka inilah.
Semoga bermanfaat.

CARA BERSIHIN BUNGKUS CAPRISUN
(teknik ini bisa dipakai untuk bersihin terapak (?) yang lain, tentunya)
- Ambil lap bersih. Taruh diatas meja. Letakkan bungkus Caprisun diatas lap. Giles pake rolling pin atau botol kosong atau apapun asal bentuknya silinder dan cukup lebar untuk mengcover seluruh permukaan bungkus Caprisun.
- Gulingkan rolling pin dari bawah ke atas sampai seluruh sisa cairan keluar. 


- Cuci bersih sekali lagi, keringkan. Biasanya saya jepit pake jepitan jemuran dan lalu saya angin-anginkan di deket jendela. Atau kalau nggak sabar, bisa ditaruh di depan kipas angin. Atau simply dilap pake lap bersih sampe kering.

Happy upcycling!
Vina Revi

Reusable Bag


Di Korea, semua anak dikasih makan siang di sekolahnya. Termasuk kedua anak saya (kelas 6 SD dan TK besar). Nah, pertanyaannya sekarang: Gimana seandainya si anak harus minum obat pada waktu makan siang? Apakah harus ditunda sampai si anak pulang ke rumah yang notabene diatas jam 2-3 pm? Atau gimana? 

Bisa jadi masing-masing sekolah akan berbeda aturannya. Tapi kalau di sekolah anak-anak saya selama ini cara mainnya adalah obat dibekal ke sekolah (di pagi hari) --obat dituang di dalam botol plastik khusus (foto terlampir), biasanya dikasih dari apotik-- lalu nanti akan diberikan ke anak (oleh guru kelasnya masing-masing) setelah acara makan siang selesai.

Nah, yang selama ini yang saya lihat, rata-rata orang tua akan menyimpan botol tersebut di dalam kantung plastik atau semacam ziplock bag aja gitu. Memang praktis sih, ya. Karena tinggal cemplung, selesai. Tapi gimana dengan sampah plastiknya kemudian? Karena biasanya ziplock kayak begitu cuma sekali dua kali pakai, yes? 

Maka ting! Saya jadi mikir kenapa saya nggak bikin wadah obat yang bisa dipakai berulang-ulang aja? Atau istilah Enggresnya: Reusable Bag. Selain ramah lingkungan, tentunya project ini bisa dijadikan bahan update blog, pan. Ehk. Dan seandainya nggak dipake untuk wadah obat, kayaknya bag semacam ini bisa dimanfaatkan untuk mewadahi berbagai benda lain dan atau malah snack sebagai bekal piknik, yes? 

Excited dengan ide tersebut, saya pun langsung bekerja.
Dan setelah sekitar setengah jam berkutat di ruang craft, maka inilah:

REUSABLE BAG


Bahan:
- Kain untuk bagian luar
- Laminated fabric (kain yang ada lapisan plastiknya), atau bisa juga pake kain apapun yang penting kedap air, untuk bagian dalam 
- Velcro
- Gunting
- Mesin jahit dan segala ubo rampenya (atau bisa juga dijahit pake tangan tapi mungkin butuh effort lebih)
- Mesin obras/overlock machine/serger (optional), lihat detail di bawah kalo nggak punya alat ini

CARA.
1. Potong kain sesuai kebutuhan. Dalam kasus saya: 10x26 cm.


Kain yang berwarna kuning untuk bagian luar dan yang bergambar gajah (laminated fabric) untuk bagian dalam. 

2. Jika punya mesin obras/overlock machine/serger, maka ini yang harus dilakukan: Posisikan kedua kain dengan sisi salah saling berhadapan (kedua sisi benar berada di bagian luar).


Tapi jika nggak punya mesin obras, maka kain diposisikan dengan sisi benar saling berhadapan, lalu jahit keempat sisinya dengan menyisakan lubang sekitar 4-5cm untuk tempat membalikkan kain.

3. Setelah diobras (atau dijahit dan kemudian dibalik), seterika permukaan kain (tentunya bukan yang laminated, ya) sampai licin. 


4. Jahit velcro di kain yang ada plastiknya. Pastikan si velcro bener-bener ng-krep ketika ditangkupkan. Jangan sampe mengsle.


Saya menambahkan kantung plastik (di bagian luar) untuk tempat menyelipkan kertas yang berisi catatan aturan minum obat. Tapi ini langkah optional, kok.


5. Lipat kain jadi dua. Jahit kanan kirinya. Selesai.


Happy reducing and reusing!

Metamorfosis tas gratisan



Sering ikut seminar, simposium, diklat dan segala derivasinya lalu kemudian pulangnya dibawain berbagai macam gimmick oleh panitia kah? Kalo iya, toss. Pertanyaannya sekarang: Seneng nggak dikasih berbagai barang gratisan tersebut? Kalo aku sih terus terang seneng. Ehk. 

Cuman tahu sendiri, dong, kadang-kadang kita suka malu untuk memakai si gimmick tersebut, yes? Karena yang namanya gimmick (gratisan) itu rata-rata memang penuh dengan sablonan judul acara (dan atau nama/gambar/logo produk sponsor) dalam ukuran besar. Intinya: si gimmick nggak banget untuk dibawa ngeceng aja gitu. *OMG, hari gini masih ada yang memakai kata ngeceng nggak, siy?*

Nah, salah satu cara mensiasatinya ada di bawah ini.

METAMORFOSIS GIMMICK
Jenis gimmick: tas 
Level kerempongan: dari skala 1-10, ini masuk 5




Idenya sederhana: bagian tas yang ada tulisan nggak pentingnya ditutup dengan sesuatu yang lebih menarik. Dalam kasusku: kain perca yang dipotong memanjang, kemudian dijahit melingkar membentuk bunga. Kemudian tali tas dilapisi dengan pita yang dijahit sepanjang pinggirnya. Ou, sama tasnya aku kecilin sedikit ukurannya dengan memotong bagian kanan kirinya biar bentuknya lebih persegi panjang.

ini foto before-after nya:


Happy crafting & recycling!

Upcycling kaleng bekas

Selain jar, maka kaleng adalah salah satu benda yang rada eman-eman aku buang. Karena aku yakin bahwa banyak banget kreatifitas yang bisa dituangkan untuk menyulapnya menjadi barang yang cantik dan berguna. 

Misalnya dibikin kayak begini:


Versi "Sebelum dan Sesudah" :


Yang aku kerjakan ini sederhana. Jadi kaleng bekas dicuci bersih, kertas produknya dilepas (tips: gosok kaleng dengan sponge&air sabun jika si kertas susah dikelupas), keringkan. 

Setelah bersih dan kering, kaleng dicat dengan warna sesuai selera (dalam kasusku: merah). Aku pake pylox (dua lapis) biar praktis. Soalnya berdasarkan pengalaman, ngcat pake kuas ternyata keringnya (lebih) lama dan belum tentu rata olesannya. Tapi terserah kalian aja, deng. Mau pake kuas atau pylox. Bebas.

Biarkan cat kering sempurna (3-4 jam atau semalaman). Setelah kering, baru kemudian kita hias dengan berbagai embelishment atau simply dibungkus pake kain perca (ini project yang sangat bagus untuk memanfaatkan kain sisa sewing craft). Selesai.

Ini penampakan close up kaleng yang (hanya) dihias pake embellishment:


Dan ini yang dibungkus pake kain perca dengan aplikasi balik:


Gimana? Beneran simple, kan?
Tapi yang penting fungsional, yes.

So, happy crafting&recycling!
Hope to see u guys in the craft room soon.

Salam,
Vina Revi

3 Ide mendaur ulang stoples bekas

Punya tumpukan stoples bekas (bekas wadah selai atau saus spagheti, misalnya) yang udah nggak dipakai kah? Trus kepikiran untuk mendaur ulangnya menjadi sesuatu yang crafty tapi ndilalah nggak punya banyak waktu untuk melakukannya? Nah, dibawah ini ada beberapa ide yang mungkin bisa dijadikan inspirasi.

-Wadah nic nac-


Potong kertas sesuai dengan tinggi dan lingkar stoples.
Masukkan kertas yang udah dipotong tadi kedalamnya.
Beri tag di leher stoples atau biarkan apa adanya.

-Baking Gift Jar-


Cuci bersih stoples. Keringkan. Masukkan bahan untuk membuat Banana Choco Cake dengan urutan sebagai berikut: tepung terigu, coklat powder, gula pasir (atau gula halus), almond. Tulis resep lengkapnya di kertas, kemudian ikat di leher stoples. Gift jar kayak begini cocok banget untuk mereka yang hobby baking.

-Candy Gift Jar-


Hias bagian luar stoples. Masukkan gumpalan kertas tissue ke dalam stoples. Tata permen coklat diatas kertas tissue. Tutup bagian atasnya dengan plastik transparan.  Ikat plastik dengan tali. Tambahkan gift tag.

Semoga menginspirasi!

[Prakarya Anak] Memanfaatkan kain perca


Sewing craft yang satu ini cocok banget dilakukan anak-anak. Karena buat saya, jika jahitannya semakin messy (khas anak-anak yang kebanyakan masih dalam taraf belajar) maka tampilannya justru akan semakin unik.


Sekadar info: karya diatas adalah hasil jahitan Keiva, bungsu saya (6 tahun) yang baru pertama kali ini pegang jarum jahit (dalam artian beneran disuruh menjahit dan nggak cuma pegang-pegang aja). And see? Hasilnya lumayan, yes ... ^^

Bahan:
- Kain (ini saatnya untuk memanfaatkan kain perca yang menggunung)
- Gunting
- Jarum dan benang jahit
- Kapas (untuk filler)
- Pita (untuk menggantung)

CARA.


1. Gambar pola sesuai selera diatas kertas (dalam kasus saya: hati), gunting lalu jiplak diatas kain. Gunting. Sisihkan. Buat sebanyak dua buah. Tips: kain bisa dilipat lalu gunting sekaligus sehingga didapat hasil yang sama.
2. Tumpuk potongan kain tersebut jadi satu pake jarum pentul. Lalu mulailah menjahit sekelilingnya (sisakan sekitar 2-3 cm sebagai tempat masukkin kapas). Tadi Keiva lupa bikin lubang sehingga agak kesusahan ketika akan mengisinya dengan kapas. ^^
3. Setelah terisi kapas, jahit lubangnya. Beri pita diatasnya. Selesai. Tips: supaya gantungan ini lebih berguna, mungkin lain kali akan saya tambahi potpouri atau wewangian lainnya.

Happy sewing!
Ou, btw biar nggak dituduh hoax, ini bukti videonya. ^^

Kain perca dan kejadulan

Jadi ya, sampai detik ini tuh saya masih merasa lebih nyaman membaca buku yang bisa dipegang, dibaui dan dipajang di rak sesudahnya. Ehk, jadul banget? Yo ben.

Itulah sebabnya saya memilih untuk menyulap sebagian kain perca (yang makin menumpuk di pojokan ruang craft saya) menjadi pembatas buku. 





Bahan-bahan:
- Kain perca (lebar minimal 3 cm, panjang terserah)
- Kain pelapis (untuk background)
- Penggaris atau meteran kain
- Gunting
- Mesin jahit dan segala ubo rampenya (benang, spool, jarum pentul, dll)

Cara:
1. Susun kain perca sesuai selera


2. Jahit satu persatu membentuk patchwork. Buka lipatan jahitan dengan cara diseterika.



3. Setelah terjahit rapi, potong salah satu sisinya. Gunakan sisi yang terpotong tadi sebagai panduan untuk mengukur lebar pembatas buku yang diinginkan. Saya memakai ukuran 6 cm (itu udah termasuk lebar jahitan).



4. Potong kain background sesuai lebar patchwork. Tangkupkan kain background dan patchwork dengan sisi benar saling berhadapan. 


Jahit melingkar, sisakan 3-4 cm untuk tempat membalikkan kain.


6. Gunting keempat ujung kain, balikkan, press.  


Top stitch keempat sisinya.


Selesai. Yay!

Sederhana tapi berguna

Bagi yang sering ngintip Random Snippets, pasti tahu bahwa saya hobby mendaur ulang berbagai macam bahan yang ada di sekitar saya untuk dijadikan craft. Nah, karena saat ini saya sedang butuh wadah nic nac, maka yang saya jadikan sasaran adalah kedua bahan dibawah ini:

 dus bekas sepatu


dan majalah bekas


Yang saya lakukan dengan kedua bahan diatas cukup sederhana. Kardus bekas sepatu saya lepas tutupnya, kemudian bagian dasar dan keempat sisi bagian dalam dus saya lapisi dengan potongan majalah bekas (yang sebelumnya sudah saya lapisi dengan selotip --supaya lebih awet dan nggak gampang sobek. Yup, prosesnya mirip ketika kita akan melaminating kertas gitu).

Setelah bagian dalam kardus tertutup rapi, saya mulai memotong halaman majalah bekas dengan lebar 10.5 cm (sesuai tinggi dus). Lalu masing-masing potongan saya gulung membentuk pipa kecil dan dilem ujungnya (saya butuh 1.5 buah Glue Stick). Kemudian pipa tersebut saya tempelkan satu persatu di permukaan dinding luar dus memakai lem tembak (saya butuh 1 batang lem) sampai seluruhnya tertutup.

Sampai disini kalian bisa berhenti dan wadah nic nac siap digunakan.


Tapi jika kalian punya sisa kain yang lucu, silakeun menjahitnya untuk dijadikan pelapis wadah. Kayak begini:



Gampang, yes?
Semoga menginspirasi.

Salam,
Vina Revi

Fabric Softener Sheet

Jika cuaca mendukung (matahari bersinar terik, nggak mendung dan nggak hujan), maka alih-alih memakai dryer (mesin pengering pakaian) saya lebih memilih menjemur hasil cucian di tempat jemuran. Karena selain hemat energi juga sekaligus mengurangi resiko baju-baju mengkeret kalau (saya) salah memilih settingan dryer. 

Biasanya dalam kondisi terpaksa memakai dryer, saya akan memasukkan beberapa lembar Fabric Softener (atau biasa disebut dengan istilah dryer sheet) ke dalam mesin pengering. Tujuannya agar cucian lembut dan wangi. Memang dryer sheet ini mirip kayak cairan pelembut pakaian biasa. Cuma bedanya yang ini dibuat dalam bentuk lembaran. Barangkali ada yang penasaran, penampakannya seperti ini:


Biasanya dryer sheet akan dibuang setelah dipakai. Karena siapa juga yang mau memakai lembaran kertas kusut -meskipun masih wangi- seperti yang ditunjukkan pada foto dibawah ini, kan?


Terus terang selama ini saya juga selalu membuang dryer sheet bekas pakai tersebut, kok. Sampai akhirnya sekitar satu tahun yang lalu saya melihat mDian mendaur ulang dryer sheet menjadi bunga dan kemudian dijadikan hiasan di kartu handmade-nya. Atau Claire yang menyulapnya menjadi amplop untuk kartu-kartu uniknya. Kreatif!

Sejak saat itu saya pun nggak pernah membuang dryer sheet lagi. Jadi setelah dikeluarkan dari mesin pengering, lembarannya selalu saya kumpulkan, dilipat rapi dan kemudian disimpan. Tapi berhubung saya nggak terlalu hobby bikin kartu, saya nggak bisa begitu aja mencontek ide mDian dan Claire tersebut. Tapi saya meyakini bahwa suatu saat sebuah ide akan muncul di kepala saya tentang apa yang harus saya lakukan dengan koleksi dryer sheet tersebut.

Dan saat itu adalah sekarang.
Dimana tiba-tiba saya kepikiran untuk membuat sebuah Bantalan Jarum Pentul dan merasa bahwa buntalan dryer sheet yang saya simpan itu akan sangat cocok dimanfaatkan sebagai busa tempat tusukan si jarum pentulnya. Sebenernya tinggal beli (bantalan jarum pentul) pun bisa, ya. Tapi sumpe, saya memang lebih puas jika memakai barang DIY (Do It Yourself). 

Maka setelah berkutat selama hampir empat puluh lima menit, inilah yang berhasil tercipta:


Bantalan/Wadah Jarum Pentul

Tempat tusukan jarum pentul saya buat dari buntelan dryer sheet (diikat memakai tali) yang kemudian dibungkus dengan kain (saya memilih warna cream biar jarum pentulnya stand out ketika ditancepin). 


Sementara base-nya saya buat dari bekas tempat susu bubuk Keiva -yang udah nggak kepake- yang saya bungkus dengan kain warna gelap supaya mengimbangi warna bantalan yang cenderung polos.


Kain gelap tersebut saya tempel di dinding wadah memakai glue stick. Soalnya kalau pake lem tembak, menurut saya hasilnya malah cenderung nggak rapi karena permukaan kain akan sedikit menonjol karena efek hot glue yang mengering (terutama kalau kita nembakkinnya nggak rata). Itu menurut saya loh, ya. 




So, that's it. 
Sebuah bantalan jarum pentul yang simple dan saya yakin banyak yang udah pernah membuatnya. Karena yang ingin saya bagi disini justru sebuah kesadaran bahwa apapun yang tampak seperti sampah, sebenernya bisa kita daur ulang menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Kuncinya: berkreasilah secara gila!

Happy crafting, everyone.
-Vina Revi-