Showing posts with label keiva. Show all posts
Showing posts with label keiva. Show all posts

Lain kali minta dikucir lima aja ya, Sayang ...




    Biasanya saya mengolah rambut Keiva, anak saya yang nomer dua, dengan model kucir tiga atau lima. Tapi kebetulan sore itu si Ayah (Ayah Keiva, tentu saja, bukan Ayah saya) iseng mendandani Keiva dengan model kucir ekor kuda. Iya, yang seluruh rambut dipelontos menjauhi jidat dan diikat menjadi satu ke arah belakang itu.

      Sret! Sret! Sret!
     Dalam waktu sekitar sepuluh menit si Ayah pun selesai mengucir rambut Keiva. Lalu dengan level pede sekitar lima juta (skala sepuluh ribu sampai dengan enam juta), si Ayah menunjukkan hasil pekerjaannya tersebut kepada Kayla, kakak Keiva. "Kak, lihat rambut adek, deh! Bagus, kan?", si Ayah meminta justifikasi.

    Kayla yang sedang asik membaca buku pun menoleh sekilas ke arah Keiva. Komentarnya kemudian, "Iya, bagus. Keiva jadi kayak Sule ..."

Salam,


Buat yang enggak ngerti Sule: aduuuh, kemana ajaaaa?!

photo. ponytail by 'themusicalfruit'
UPDATE.Senaaaaang ...
Dapet rejeki lagi dari menulis.
TQ a bunch, Blogfam!
TQ juga, Kayla, untuk celotehanmu yang selalu menginspirasi Bunda.

Note. Silakeun klik pada sobekan kertas diatas untuk melihat detail pengumuman pemenang (just in case mata kalian jereng liat tulisan kecil-kecil pada gambar diatas)

India Aca-Aca


Anak-anak yang aneh ...



saat Keiva pasrah didandanin ala India aca-aca oleh Kayla, kakaknya


Pasar Kliwon


Jadi ya, di Solo itu ada sebuah daerah -yang penuh berisi encik-encik berkulit keling- yang terkenal dengan sebutan Pasar Kliwon. Atau kalau ditulis sesuai dengan pronouncation orang Jawa (asli) menjadi ‘sar Kliwon, yaitu menghilangkan ‘pa’ di depan kata ‘pasar’.

Nah, saat kecil tuh aku pernah dijuluki ‘sar Kliwon oleh salah satu Pakde dari garis Mama. Karena (dulu) kulitku memang iteeeeeeeeeeeem banget! Aduh, pokoknya keadaanku saat itu bener-bener melas, deh. Udahlah ringkih, badan kurus, rambut cuma tiga dan berkulit hitam, pula. Bener-bener i’m the ugly duckling.

Jadi tiap ada lomba-lomba gitu, yang diajuin oleh Mama pasti kakak perempuanku yang memang berkulit putih dan tampak lebih imut-imut dibandingin aku yang super duper hitam kayak pantat panci.

Tapi nggak pa pa. Karena aku ridho dengan situasi tersebut.
Lagian Mama juga bersikap adil. Karena saat ada lomba menulis atau lomba membuat kreasi (yang intinya adalah si peserta berada di balik layar dan nggak harus tampil), pasti aku yang bakal didaftarin untuk ikut lomba oleh Mama dan bukan kakakku. See, ternyata di awal tahun 70-an pun Mamaku udah mengerti konsep Multiple Intelligence dalam mendidik anak.

Okay, sampe mana tadi?
Oya, sampe kulit item kayak pantat panci, ya …

Jadi saat kemaren Keiva diajak mudik ke Indo dan dikenalkan ke sodara-sodara termasuk ke Papa Mama –yang bela-belain driving dari Semarang menuju Bandung khusus untuk ketemu cucu-cucunya-, rata-rata komentar mereka adalah, “ Walah?!! Ternyata Keiva rada item, ya? Soalnya di foto-foto yang dipasang di internet itu nggak terlalu keliatan gutheng-nya kayak kamu waktu kecil dulu, loooh!”.

Gedombraangg!!!
Ternyata memang susah menghapus masa lalu, ya?

Dan meskipun tiga detik kemudian langsung disusul ucapan, “Biar gutheng tapi cantiiiiiik, deng!”, tetep aja nggak mempan untuk membatalkan niat Emaknye Keiva yang udah bersiap-siap mewek di dapur sambil ngemil batagor.

Ya udah, Nduk. Tenang aja, ya.
Meskipun saat ini kamu terlihat keling, jangan khawatir.
Karena ternyata warna kulit bisa berubah. Buktinya ya Emakmu ini, Nduk.
Dari kulit sehitam pantat panci ternyata bisa berubah menjadi seputih bidadari …

*si Emak minta ditabok saking narsisnya*

foto. Mama-ku yang lagi gendong Keiva di rumah Bandung (akhir Juli 2008)

Dejavu

Dua kali hamil, ternyata dua kali pula gen-ku di by pass ama anak-anakku.
Karena mereka semua lebih mirip Ayahnya dibandingin aku yang notabene adalah Emaknye. Yah, sebenernya nggak pa pa juga sih seandainya Kayla dan Keiva mirip banget ama si Ayah. Karena orang-orang jadi yakin bahwa aku setia ama Agus Budiyono dan nggak selingkuh ama Gerard Butler (yang memang ganteng itu!).

Dan sekarang, aku seolah-olah mengalami dejavu.
Karena tiap kali nyusuin Keiva, aku berasa kayak yang lagi liat Kayla.
Mulai dari bentuk hidung sampe model bibir Keiva nggak ada yang berbeda jika dibandingin dengan foto-foto Kayla tahun 2002 …

Plek keciplek ciplek, sodara-sodara!

Ah, ternyata mereka memang (kayak) anak kembar.


click on the image to enlarge

Apa Jenis Kelaminmu, Keiva?


Tadi pagi di dalam subway menuju Dongdaemun, ada ibu-ibu Korea setengah baya yang dengan ramahnya menyapaku. Mungkin karena saking nggak tahan untuk nggemesin Keiva yang lagi tiduran di dalam stroller, jadi dia nekat mengajakku ngobrol meskipun dia harus struggling dengan campuran bahasa Korea dan Inggris yang terpatah-patah.

Katanya, “Agi!”. Maksudnya ‘baby’.
“ Ye”, balasku yang artinya ‘iya’.

Lagian siapa yang bilang bahwa ada ondel-ondel di dalem stroller, yak?

“ Your baby is so cute”, lanjutnya memuji.

Ehk! Emaknye langsung GR, niy.
Jadi lalu dengan hati berbunga-bunga aku merespon,” Kamsahamnida”.
Karena kita memang harus selalu bilang terima kasih saat dipuji, kan?

“ He is so handsome, too!”, lanjut si ibu-ibu tadi dengan muka sumringah.

Apaaa ??!!!

Keiva disebut ‘He’?
Dan terlihat ‘Handsome’ di mata dia?

Yaelah, Mak!
Keiva itu cewek, lageee …

Aduh, Keiva. Kasian sekali kamu, Nak.
Masak cantik-cantik dibilang handsome, sih?

*Bunda pun langsung dengan penuh napsu memborong jepit rambut di Dongdaemun dan sibuk nyari info piercing booth yang super duper keren di Seoul biar Keiva bisa pake anting-anting!*

Oya, sebelumnya sempet berharap supaya si ibu tadi dijilat banci pas mo pulang ke rumahnya.

foto. Keiva saat berumur 1 bulan (9 Juli 2008)

Bunyi Kentut


Baru juga berumur lima belas hari, tapi ternyata bakat usil Keiva udah keliatan.
Yaitu doyan kentut tiap kali selesai dimandiin!

Tapi untungnya itu kentut bayi, ya?
Jadi baunya juga nggak terlalu menyengat.
Cuma yang agak menganggu, bunyinya itu, loh …
Kayak bunyi kentutnya Ade Rai!
Berotot …
Berotot …

(The Real) Homecoming Day dan Proses Labor Keiva

Horeeee!
Akhirnya Keiva dibolehin pulang ke rumah hari Sabtu (14 Juni 2008) kemaren.
Terima kasih, ya Allah …

Bobot Keiva saat discharge naik 20gr. Berarti apetite Keiva okay banget dan usahaku memerah ASI setiap hari (pake bonus backpain segala!) selama Keiva nginep di NICU nggak sia-sia.

Tapi sejak awal, proses kelahiran Keiva memang nggak merepotkan. Mulai dari tanggal brojolnya yang maju dua minggu (menurut perhitungan dokter, seharusnya due datenya 24 Juni yang ternyata ditolak oleh Keiva karena dia memilih untuk keluar tanggal 9 Juni) sampai proses mules-mules yang berlangsung nggak lebih dari dua jam.

Senin, 9 Juni 2008
05.20 pm

Saat ke kamar mandi untuk melakukan number one (pipis), ternyata aku menemukan bercak darah di tissue. Oopssie! Pantesan dari pagi perutku berasa kenceng gitu. Terus aku langsung nelpon m’Agus untuk koordinasi. Untung suamiku belum berangkat ke City Hall buat les bahasa Korea dan masih stand-by di kantor. Sip lah!

Sehabis nelpon m’Agus untuk janjian ketemu di Emergency-nya Konkuk University (KU) Hospital (yang cuma berjarak sekitar 500m dari kantor m’Agus), aku langsung nyiapin Kayla. Soalnya dia belum mandi. Masih bau kecut!

Selama Kayla mandi, aku beres-beres rumah sedikit. Biasalah, soalnya habis diporakporandakan ama Kayla. Yang bed cover dibikin rumah-rumahan lah, boneka dijejer di atas kitchen table (dijadiin customer di restoran Kayla, katanya!), spidol dan kertas2 berserakan di lantai –sisa menggambar- etc. Makanya, aku memutuskan untuk ng-touch up suasana rumah sebelum berangkat ke Emergency. Maksudnya sih biar ntar sepulang dari rumah sakit -dengan kondisi sehabis melahirkan-, aku nggak pusing ngeliat rumah yang hancur total …

06.15 pm
Aku dan Kayla tiba di Emergency KU Hospital. m’Agus udah nunggu di lobby. Trus abis itu langsung registrasi sementara aku langsung ditaruh di salah satu bed di ER. Setelah diperiksa ini itu di ER, sekitar dua jam kemudian aku dipindah ke lantai 3, ke ruang delivery.

08.30 pm
Delivery Room

m’Agus dan Kayla pulang sebentar ke rumah untuk ngambil koper yang udah aku siapin di rumah. Saat berangkat ke hospital, aku memang sengaja nggak bawa bondolan. Takutnya kalo nggak jadi beranak hari itu dan disuruh pulang ama dokter di ER. Kan malu juga kalo udah ribet bawa-bawa koper. Lagian rumah deket inih dari hospital …

Jadilah aku ditinggal sendirian di ruang delivery.
Masih sempet telpon Papa Mama dan Bapak Ibu mertua. Ternyata satu jam kemudian, tim sukses (yang terdiri dari Reza, Widi dan Idris –semuanya mahasiswa2nya m’Agus) berbondong-bondong datang menjengukku di lantai 3. Wah, good news spread so fast, ya?

Aku masih bisa berhaha-hihi. Soalnya dokter yang jaga sempet bilang bahwa katanya dr.Gwan udah dihubungin dan (saat itu) dia lagi ada barbeque party dan sempet minum dikit (kebiasaan orang Korea saat pesta ato merayakan sesuatu memang selalu pake bumbu wine dan sebangsanya). Tapi dijamin dr.Gwan nggak mabuk, kata si dokter menenangkan saat aku merespon dengan panik, “What?! Are u trying to say that dr.Gwan lagi mabok?”. Huhu, soalnya gila aja lah kalo tar aku harus diobras ama drunken gynaecologist sehabis beranak …

10.15 pm
m’Agus dan Kayla udah balik lagi ke hospital sambil bawa koper. Reza, Widi dan Idris masih nemenin, nih. Ya udah, kami ngobrol-ngobrol gitu. Tapi kontraksiku mulai sering. Jadi sambil ngobrol, aku sibuk cengar-cengir nahan sakit. Akhirnya sekitar jam 11pm, mereka pamit pulang.

11.15 pm
Kontraksi yang awalnya terjadi setiap 10 menit sekali, mulai berubah menjadi 7 menit sekali. Dan aku sibuk mengingat-ngingat teori Lamaze, nih. Tapi kayaknya sih yang ada cuma panik. Soalnya sakit banget. Maklum, dulu saat ngelahirin Kayla aku memang pake epidural anesthesia. Jadi nggak ngerasain sakit. Sedangkan yang ini? Asking for epidural anesthesia? Forget it, my friend. Eh, tapi setelah dipikir-pikir ternyata nikmat juga ngerasain sakitnya kontraksi, loh …

11.25 pm
Kontraksi makin sering, yaitu tiap 2 menit sekali. m’Agus langsung aku mintain tolong manggil suster. Satu menit kemudian, para suster dan dokter jaga udah sibuk nyiapin segala sesuatunya di delivery room. Mulai dari baby warmer, bed yang dicopotin dan dirubah bentuknya menjadi posisi melahirkan (u know lah) etc. Aku sempet denger si dokter jaga sibuk ngomong di HPnya, “Ye, ye. Chigum. Bla bla bla. Chigum. Ye. Ye.”. Kayaknya sih dia lagi nelpon dr.Gwan.

Buset, dah! Chigum? Sekarang, nih?, batinku. Please, help me God!, doaku dalam hati. Dan lalu entahlah, semuanya terjadi dengan amat sangat cepat.

11.35 pm
Air ketubanku pecah. Sejurus kemudian, aku nggak tahan untuk mengejan. Si dokter jaga udah siap. Dia udah pake baju steril dan mulai membimbingku untuk mengejan. Aku yang makin kesakitan udah out of control gitu. Sampe-sampe aku nggak sadar bahwa ternyata dr.Gwan udah datang dan mengambil alih posisi si dokter jaga. Aku nyadarnya saat denger dr.Gwan bilang, “Yeah, good! Keep pushing!” …

Loh, Dok? Udah nyampe, to? Btw, nggak mabok, kan? Bagi barbeque-nya, dong!

11.55 pm
Dengan 4 kali mengejan, akhirnya proses labor selesai sudah. Diakhiri dengan mengejan sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta, tentu saja. Alhamdulillah.

Btw, m’Agus juga pake baju steril karena dia mau memotong tali pusar Keiva. Jadilah selama proses kelahiran nggak ada dokumentasinya sama sekali. Sayang juga sih, sebenernya. Tapi ya sudahlah, nggak pa pa. Soalnya boro-boro saat itu mikirin dokumentasi. Wong buat mikir teknik bernapas aja udah nggak karuan konsentrasinya …

Setelah di-adzan-in ama m’Agus, Keiva dibungkus pake selimut dan ditunjukkin ke aku sebentar buat dicium dan setelah itu, dadah. Keiva masuk NICU, deh.

Selasa, 10 Juni 2008
00.10 am

Dr.Gwan selesai menyulam. Dan kemudian menerangkan kondisiku serta kondisi Keiva.
OK, TQ ya, Dok! Btw, tadi ngobrasnya disisain, kan?

00.30 am
Sibuk nelpon Papa Mama.
Mama sempet komentar, “Ini kamu minum jus cicak ato gimana, sih? Habis ngelahirin kok nggak ada lemes-lemesnya blas dan suaranya masih ng-cling aja?”. Ehk, jadi malu! Lha kalo emang nggak lemes masa aku disuruh pura-pura lemes sih, Ma?
Trus nyoba nelpon Bapak Ibu mertua. Tapi nggak ada yang ngangkat. Kayaknya sih udah pada tidur. Ya udah, besok pagi coba ditelpon lagi, deh.

02.00 am
Setelah dua jam nunggu di delivery room, aku dipindah ke maternity ward. Pfiuh, asik. Bisa istirahat, niy!, pikirku. Yang ternyata nggak sukses! Karena tiap jam aku kebangun. Ya sudahlah. Akhirnya aku begadang berdua ama m’Agus sambil ngobrol-ngobrol. Sementara Kayla udah terlelap dengan nyenyak di tempat tidur khusus penunggu yang terletak di samping bed-ku.

btw, aku juga sempet ng-draft proses kelahiran Keiva ini karena nggak bisa tidur. Sebenernya sih kalo udah fotonya, mo langsung di-publish. Tapi berhubung nggak punya foto sama sekali, ya udah. Minimal bikin draft-nya aja dulu. Blogger sejati, tea! Abis beranak pun kepikiran untuk posting ...



Ya, kehidupan kami kembali berubah sejak tanggal 9 Juni 2008 pukul 11.55 pm.
Terima kasih ya Allah atas segala karunia-Mu …