Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Supaya gudang nggak kayak 'gudang'

Gudang itu biasanya identik dengan ruang yang berantakan dimana segalanya serba disumpel-sumpelin, kotor dan jorok. Padahal kalau mau, sebenarnya kita bisa menata gudang agar tampak rapi. 

 foto. Vina Revi (dijebret pake HP)
Caranya sederhana.


Pertama.
Sediakan rak untuk menaruh barang-barang yang akan disimpan di dalam gudang.
Tips: Sebaiknya rak di-design dengan ukuran khusus sesuai gudang kita. Misalnya rak yang dibuat dengan tinggi mepet dengan langit-langit ruangan sehingga nggak ada space gudang yang terbuang.

Kedua.
Cari wadah/box yang sejenis baik dilihat dari segi bentuk maupun ukuran. Tujuannya: biar kalau ditata terkesan lebih rapi karena bentuknya seragam. 

Ketiga.
Jika sebuah barang ternyata nggak pernah dipakai lebih dari dua tahun, sebaiknya dihibahkan aja ke teman/kerabat yang membutuhkan. Nggak perlu disimpen lagi di gudang. Atau bisa juga bikin garage sale di depan rumah dan barang-barang yang jarang dipakai tersebut dijual dengan harga murah. Selain kita bisa mendapat uang tambahan, orang lain yang memperoleh barang kita juga akan merasa lebih puas karena mereka mendapatkan si barang bukan dengan cara gratisan. 

Keempat.
Bereskan gudang secara berkala. Karena sedisplin dan se-neat freak apapun, yang namanya entropy itu akan selalu naik. 

Happy cleaning!

ps. Kalau masih butuh referensi beres-beres yang lain: Meruntuhkan Mitos Sebuah Gudang

Patchwork, please

Beberapa sewing craft yang berhasil saya kerjakan dengan memanfaatkan sisa kain yang mulai menumpuk di keranjang. Yep, kalau udah bingung mau ngapain dengan fabric scraps, paling gampang larinya memang ke patchwork sih, ya.

Anyway, maka inilah.
Semoga bermanfaat.

1. Patchwork Needle Book






Saya belajar cara bikin Needle Book diatas dari blognya Amy. Sebenernya yang saya pasang ini adalah percobaan yang kedua. Jadi yang pertama dulu (sekitar satu minggu setelah punya mesin jahit) hasilnya kurang memuaskan karena peralatan (dan terutama ehk, skill) saya kurang memadai. 

Sehingga dari tutorial Amy yang hasilnya sebenernya sangat cute itu proses pengerjaannya sengaja saya modifikasi disana sini demi menyesuaikan dengan kondisi. 

Pertama, faktor rolling cutter. Alat tersebut sangat membantu untuk memotong kain secara lurus. Tapi berhubung saat itu saya belum punya, jadi aja potongan kainnya sengaja saya bikin besar-besar (dari yang seharusnya ukuran 1.5" --sekitar 4cm-- cm saya rubah menjadi 6 cm) biar lebih gampang dipotong pake gunting. Ehk.

Kedua, faktor skill. Amy ngajarin cover depan buku dikasih hiasan aplikasi (dan sedikit bordiran). Tapi berhubung saat itu --boro-boro masang aplikasi dan apalagi ngbordir-- sedangkan ngjahit lurus aja masih banyak zig zagnya, maka akhirnya saya putuskan untuk membiarkan cover depannya kosong melompong. 

Jadi ya nggak heran kalau hasilnya lumayan. Lumayan lasut, maksudnya. Kegedean aja gitu untuk ukuran sebuah Needle Book. Tapi ah, namanya juga nyoba, pan. Btw, ini saya upload fotonya aja, deh. Sekalian sebagai bukti bahwa pantang menyerah itu hukumnya memang KUDU. Tsah.



2. Patchwork Metal Frame Purse


Sebelum membuat dompet patchwork yang ini, saya sempet nyobain yang pake kain biasa. Lebih cepet prosesnya, memang. Tapi konsekuensinya kita memang harus bisa memilih kain yang motifnya strong biar nggak keliatan ndeso. Dan terus terang, hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan. Perlu latihan. *yang beberapa kali terjebak memilih kain ---yang keliatan bagus ketika di toko--- tapi setelah diproses jadi bahan craft hasilnya kok jadi mirip jahitannya Yu Jumariah gini?*


Oh, saya belajar bikin dompet kayak gini dari blognya Caila. Mulai dari cara bikin pattern-nya sampai gimana ngjahitnya. Sumpe, she is awesome!

3. Tempat nic nac


Dibuat dari 9 buah kantong jeans, 12 buah kain berbentuk bujur sangkar masing-masing ukuran 15x15cm (sebagian saya memakai potongan jeans yang bagian kaki), 1/2m kain untuk background dan 1/2m batting. 

4. Pin cushion


Ini tergolong project setengah jam jadi. Super gampang dan beneran nggak ribet. Pola lingkaran saya ambil dari bekas kipas Kayla (si sulung) yang udah nggak kepake. Isian memakai busa (?), er apa sih nyebutnya yang buat dipake isi boneka itu? 

Saya belajar dari postingannya Regina Lord yang kreativitasnya seru banget itu. Style-nya cocok banget sama selera saya. Jadi aja begitu saya kesasar di blognya, betah aja muter-muter disana.

---

Btw, hari ini kalian bikin apa?
Boleh liat kah?
Terima kasiiiiih ... ^^

Salam,
Vina Revi

Meruntuhkan mitos sebuah gudang

Gudang itu nggak harus berantakan.
Tapi yang namanya entropy memang akan selalu meningkat sesuai dengan aktivitas penghuninya. Terbukti dengan penampakan Gudang Cadangan (total ada dua buah gudang) di apartment saya ini yang sumpe astaga sekali. Astaga amburadulnya.


Awalnya sih nggak kerasa ketika saya bragh brugh meletakkan berbagai barang disana, ya. Mulai dari nggabrukkin roll tissues, paper towel, art supplies, seterika uap model berdiri (yang ternyata lumayan makan tempat sehingga terus terang membuat saya berpikir untuk mewariskannya kepada yang berminat. Jadi, ada yang mau kah?), inline skate si Kakak, segala mainan Keiva, dan seterusnya. Intinya: banyak aja barangnya dan makin tidak terkontrol cara menyimpannya.

Maka yang saya lakukan kemudian tentu saja berusaha merapikannya. FYI: Tanpa harus misuh-misuh atau mengeluh loh, ya. Karena pada dasarnya saya memang hobby beres-beres. Lagipula kegiatan merubah sesuatu yang awalnya berantakan menjadi rapi jali itu memang salah satu therapy yang cukup bagus untuk manusia obsessive compulsive macam saya. Serius.

Kembali ke soal gudang.
Jadi yang saya lakukan untuk merapikannya:
1 Mengeluarkan seluruh barang yang ada disana.
Tujuan: untuk memudahkan menata ulang letak barang yang ada


2 Menyedot debu, mengepel serta menyikat lantai sampai bersih pol.
Note. Kalau cuma dipel, rasanya kurang puas. Jadi lantai perlu disikat juga.
3 Menyortir barang 
Saya menyortirnya menjadi dua bagian: 
(1) Barang yang jarang dipakai
(2) Barang yang lebih dari setahun tidak dipakai dan saya bisa hidup tanpanya. 

Untuk barang-barang yang masuk dalam katagori 1 saya tata ke dalam wadah yang nantinya akan dikembalikan ke gudang. Sedangkan barang-barang katagori 2* saya letakkan di dalam dus khusus, siap untuk dibuang. Kebetulan hari itu hari Rabu, hari buang sampah di kompleks apartment saya.

4 Yang terakhir: menata ulang letak barang

Dan setelah 1.5 jam bertungkus lumus inilah hasilnya:


Niat saya: mau cari karpet atau kursi kecil yang nyaman yang ukurannya pas untuk digelar di depan rak. Biar bisa duduk-duduk di dalam gudang aja gitu. Terutama ketika mentok mau ngapain ketika ber-me time. Ehk. 




Kesimpulan: Gudang itu boleh sesekali berantakan.
Tapi defaultnya harus tetep rapi.
Mereun.

Salam,
Vina Revi